Rabu, 08 Desember 2010

Kirab Pusaka Keraton Sambut Bulan Syura

Kirab pusaka yang digelar Keraton Kasunanan Surakarta menyambut kedatangan Bulan Syura (Tahun Baru Hijriyah), yang diikuti sekitar 2.000 abdi dalem karaton, Selasa (7/12) malam hingga Rabu dinihari, mendapat sambutan meriah dari masyarakat.

Acara tersebut diawali dengan selamatan kenduri mulai pukul 19.00 WIB dilanjutkan Khol Pakoe Boewono (PB) X di Bangsal Maligi Keraton, lalu tahlilan dilanjutkan Salat Hajad di Masjid Pudjasana.

Pukul 23.15 WIB abdi dalem keraton mendatangkan enam kerbau albino dewasa dan satu anak kerbau untuk dikirab bersama sembilan pusaka.

Kirab pusaka ini mengambil rute dari keraton menuju kawasan Geladak - Telkom - Jalan Kapten Mulyadi-Baturono.

Selanjutnya iring-iringan pusaka dan kerbau Kiyai Slamet itu dibawa menuju keperempatan Gemblegan, kemudian ke utara arah Nonongan - Jalan Slamet Riyadi kembali lewat Gladak dan berakhir kembali ke keraton sekitar pukul 03.00 WIB Rabu (8/12) dini hari.

Kirab pusaka untuk menyambut kedatangan bulan Syura itu merupakan tradisi yang sudah turun temurun.

Dalam kirab tersebut, pusaka keraton menjadi bagian utama pada barisan terdepan, diikuti para pembesar keraton, kerabat dan jajaran keraton yang lengkap dengan pakaian adat, dan masyarakat.

Uniknya, pada lapisan barisan terdepan ditempatkan pusaka yang berupa sekawanan kerbau albino yang diberi nama Kyai Slamet. Kerbau itu selalu menjadi perhatian tersendiri bagi masyarakat.

Masyarakat Solo dan sekitarnya sampai sekarang masih ada yang menganggap dengan menyaksikan kirab melihat kerbau tersebut akan mendapatkan berkah tersendiri.

Peringatan menyambut kedatangan bulan Syura di Pura Mangkunegaran Solo jatuh Senin (6/12) malam, dan kirab pusaka dilakukan
mengelilingi tembik Pura mangkunegaran mulai pukul 19.30 WIB.

Untuk pusaka yang dikirab ada enam tumbak yang dibawa keliling oleh para abdi dalem pura dan diikuti para pejabat pura lainnya, kata Sekretaris Panitia tersebut Mas Ngabehi Supriyanto Waluyo.

"Kirab ini semua dimaksudkan untuk meminta kesalamatan Pura dan Negara Republik Indonesia kepada Tuhan," katanya.

Usai kirab dilanjutkan dengan ritual merebutkan air kembang dan uang logam oleh warga yang yang memadati di halaman pura tersebut.

Selasa, 07 Desember 2010

Pantai Tanjung Bira

Pantai Tanjung Bira sangat indah dan memukau dengan pasir putihnya yang lembut seperti tepung terigu. Di lokasi, para pengunjung dapat berenang, berjemur, diving dan snorkling. Para pengunjung juga dapat menyaksikan matahari terbit dan terbenam di satu posisi yang sama, serta dapat menikmati keindahan dua pulau yang ada di depan pantai ini, yaitu Pulau Liukang dan Pulau Kambing.
Tanjung Bira terletak sekitar 40 km dari Kota Bulu Kumba, atau 200 km dari Kota Makassar. perjalanan dari Kota Makassar ke Tanjung Bira sekitar 3 – 3,5 jam.

Sabtu, 04 Desember 2010

Wakil Menlu AS Saksikan Pembersihan Borobudur

Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat untuk Diplomasi Publik, Penerangan, dan Kebudayaan Judith McHale, Sabtu 4 Desember 2010, menyaksikan proses pembersihan Candi Borobudur dari abu vulkanik Gunung Merapi.

Judith mengatakan saat menyaksikan pembersihan Borobudur samapai lantai tujuh Salah satu hal terbaik dalam kunjungan ini adalah bertemu para relawan dari Universitas Indonesia yang membantu pembersihan relief candi.

Ia menilai relawan telah bekerja keras untuk membantu melestarikan dan menjaga warisan budaya yang sangat megah ini.

"Saya sudah mengenal Candi Borobudur sejak lama, sekarang baru mengunjunginya dan menyaksikan proses pembersihan candi," katanya.

Ia mengatakan, sebelumnya Presiden Amerika Serikat, Barack Obama telah berkunjung ke Indonesia untuk mempererat hubungan Indonesia-Amerika Serikat dan salah satu hal terbaik adalah mengunjungi salah satu warisan budaya, bahkan terbesar di dunia.

Dia mempertimbangkan membantu Borobudur, apalagi Indonesia-Amerika Serikat mempunyai kemitraan komprehensif termasuk dalam bidang kebudayaan.

"Setelah pulang ke Washington DC saya akan melihat apakah ada cara-cara dari pihak Amerika Serikat untuk membantu Candi Borobudur," katanya.

Di Candi Borobudur, Judith disambut kesenian Wulang Sunu yang dibawakan siswa SMP Candirejo. DIa juga menyaksikan koleksi Museum Karmawibhangga di kompleks Candi Borobudur.

BOROBUDUR DIBUKA KEMBALI

Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB), Borobudur, Magelang, Jateng mulai hari Jum'at 3 Desember 2010 sudah di buka kembali untuk wisatawan, namun hanya di zona 1 atau di halaman pertama Candi Borobudur karena masih dalam tahap pembersihan dari abu vulkanik Merapi.

Kamis, 02 Desember 2010

Presiden : SULTAN Tetap yang Terbaik

Presiden SUSILO BAMBANG YUDHOYONO menegaskan sikapnya sebagai kepala negara dan pemerintahan bahwa kepemimpinan dan posisi Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di tangan SULTAN HAMENGKUBUWONO X tetap yang terbaik.

Dalam konferensi pers menjelaskan RUU Keistimewaan DIY di Istana Negara, Jakarta, Hari Kamis 2 Des 2010, Presiden mengatakan Kalau dari sisi politik praktis, sebagai kepala negara dan sebagai kepala pemerintahan republik ini presiden berpendapat untuk kepemimpinan dan posisi Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta mendatang yang terbaik dan tepat tetap SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO X. PEnegasan itu di ungkapkan karena posisinya sebagai presiden.

Dalam kapasitas yang lain sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, lanjut dia, tentunya sikap dan pandangan tersebut akan dialirkan kepada garis politik partai.

Dalam penjelasannya tentang Keistimewaan RUU DIY, Presiden YUDHOYONO berkali-kali meminta agar polemik tersebut tidak diarahkan seolah-olah terjadi konflik pribadi antara dirinya dan SULTAN.

Presiden dalam penjelasannya secara detil merunutkan polemik yang berkembang pada 2007 ketika masa jabatan SULTAN HB X akan berakhir pada 2008 namun tidak bersedia lagi memimpin provinsi DIY.

Presiden dengan mempertimbangkan politik dan situasi masyarakat DIY kala itu pun mengambil inisiatif memperpanjang masa jabatan SULTAN HB X dan PAKU ALAM IX sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DIY selama tiga tahun hingga 2011.

Dalam penjelasannya, Presiden YUDHOYONO kembali mengulangi pengantarnya dalam sidang kabinet 26 November 2010 yang kemudian menjadi perdebatan hangat di ruang publik.

Presiden kembali menegaskan bahwa ia menginginkan tiga unsur tercakup dalam RUU DIY, yaitu sistem nasional dan negara kesatuan Republik Indonesia, keistimewaan DIY, serta manifestasi nilai-nilai demokrasi.

Meski pemerintah saat ini belum menentukan sikap tentang suksesi kepemimpinan di DIY, Presiden meminta agar dua pandangan yang saat ini mengemuka yaitu pemilihan langsung secara demokratis dan penentuan langsung selalu dikaitkan dengan UUD 1945.

Untuk pandangan model demokratis, Presiden meminta agar dipertimbangkan pasal 18 B ayat 1 UUD 1945 yang menyatakan negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintah daerah yang bersifat khusus atau istimewa yang diatur dalam undang-undang.

Sedangkan untuk pandangan model penetapan langsung, Kepala Negara meminta agar dipertimbangkan pasal 18 ayat 4 UUD 1945 yang menyatakan gubernur, bupati dan wali kota, masing-masing sebagai kepala pemerintahan provinsi, kabupaten dan kota dipilih secara demokratis.

Rabu, 01 Desember 2010

Seniman Yogya Tolak 'Monarki' dari SBY

Kata-kata 'monarki' yang diucapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang ditujukan untuk Yogyakarta mendapat penolakan dari sejumlah kelompok di Kota Gudek itu. Penolakan datang mulai dari perangkat desa sampai kalangan seniman Yogyakarta.

Polemik ini mencuat dari pro dan kontra Rancangan Undang-Undang Keistimewaan (RUUK). Salah satunya, Bondan Nusantara, penggagas forum seniman tradisi Yogyakarta menyatakan tradisi Yogyakarta tidak mengenal monarki. Kata monarki bagi Yogyakarta dikhawatirkan dapat memecah belah masyarakat, bahkan NKRI.

mereka sangat menolak istilah monarki bagi Yogyakarta. RUUK DIY harus berakar pada masyarakat Yogyakarta sendiri, jangan sampai mengikuti keinginan pemerintah pusat karena akan memecah belah masyarakat Yogyakarta itu dikatakan Bondan Nusantara.

Bondan telah menggalang kekuatan dan mendapat dukungan yang sangat luas dari masyarakat Yogyakarta maupun luar Yogyakarta untuk RUUK DIY. Menurut dia, selama dipimpin Sultan dan Paku Alam, masyarakat Yogyakarta dapat hidup dengan aman dan tenteram.

bondan juga mngatakan bahwa Meski Sultan dan Paku Alam tidak dipilih langsung. Dan di DIY belum pernah ada sejarah Gubernur dan wakilnya dipilih oleh rakyat namun ditetapkan.

Kata-kata 'monarki' itu disampaikan Presiden SBY saat membuka rapat kabinet terbatas, Jumat 26 November lalu. "Nilai-nilai demokrasi tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu, tidak boleh ada sistem monarki yang bertabrakan dengan konstitusi mau pun nilai-nilai demokrasi," kata SBY.
Wisben Antoro, seniman lawak Yogyakarta yang tergabung dalam forum yang sama juga menolak istilah monarki. Justru Yogyakarta sudah menjadi daerah yang demokratis sebelum Indonesia merdeka.

"Kami jelas menolak istilah monarki yang diungkap oleh presiden, Yogyakarta sudah demokratis sebelum bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia," katanya.

Untuk mendukung penetapan gubernur, mereka akan unjuk gigi dengan menggelar seni jalanan dengan tujuan mendukung keistimewaan Yogyakarta. Salah satunya adalah dengan penetapan Gubernur yang dijabat Sultan dan wakilnya adalah Paku Alam.

Langit Bromo Berubah Merah

Asap pekat kecokelatan terus dikeluarkan Gunung Bromo. Asap dari abu vulkanik tersebut saat membumbung tinggi di langit warnanya berubah menjadi kemerah-merahan.

Suasana langit merah tersebut terlihat jelas di kawasan Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.

Asap itu merupakan abu halus bercampur dengan gas belerang hal itu diungkapkan oleh Gede Suantika, Kepala Bidang Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi,

Gede menambahkan Asap tersebut berbahaya jika mengenai tanaman. Dalam konsentrasi tertentu tanaman akan mati jika terus menerus terkena debu asap itu. Untuk manusia, Gede mengatakan jika kadar asap tersebut masih di ambang batas.

Yang penting warga yang 'dikirimi' hujan abu mengenakan masker. "Itu hal yang biasa saat gunung api meletus," tutur Gede.

Normalnya dalam 5 menit asap yang membumbung ke udara akan luruh atau jatuh dengan sendirinya. Tapi hal itu juga tergantung kepada arah dan kekuatan angin. Jika angin bertiup kencang dan kuat, maka debu halus itu akan cepat turun dan tidak berlama-lama mengendap di udara.

Gunung Kelud